Pencemaran Sungai Cisadane Meluas, Limbah Pestisida Picu Kematian Ikan dan Ganggu Pasokan Air Warga

  • Bagikan

Bisnisupdate.id — Jakarta Pencemaran lingkungan terjadi di wilayah Tangerang Raya setelah aliran Sungai Cisadane terkontaminasi limbah bahan kimia berbahaya. Pemerintah menyebut dampak pencemaran telah menjalar hingga sekitar 22,5 kilometer, meliputi Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang. Insiden ini diduga berawal dari kebakaran gudang penyimpanan pestisida di kawasan pergudangan Taman Tekno BSD, Serpong, pada Senin (9/2/2026) dini hari.

Kebakaran tersebut melibatkan sejumlah bahan kimia pertanian, termasuk insektisida jenis cypermetrin dan profenofos yang biasa digunakan untuk membasmi hama tanaman. Saat proses pemadaman berlangsung, air yang disemprotkan petugas membawa cairan kimia dari dalam gudang menuju saluran drainase. Karena sistem drainase kawasan terhubung langsung dengan anak sungai, limbah tersebut kemudian mengalir ke Kali Jaletreng dan akhirnya bermuara ke Sungai Cisadane.

Beberapa hari setelah kejadian, warga melaporkan perubahan mencolok pada kondisi air sungai. Warna air menjadi putih keruh, berbau menyengat menyerupai minyak, serta berbuih di beberapa titik. Selain itu, banyak ikan ditemukan mati dan mengapung di permukaan air, mulai dari ukuran kecil hingga besar. Fenomena tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai.

Pemerintah daerah bersama Dinas Lingkungan Hidup segera melakukan penelusuran lapangan dan mengambil sampel air untuk diuji di laboratorium. Kementerian Lingkungan Hidup juga mengumpulkan sampel ikan yang mati guna memastikan tingkat kontaminasi dan dampak ekologisnya. Sementara hasil uji laboratorium masih ditunggu, warga diimbau tidak menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari karena berpotensi menimbulkan iritasi kulit, gangguan pernapasan, hingga risiko kesehatan jangka panjang.

Dinas Kesehatan bahkan memperingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan yang berasal dari aliran sungai tersebut sampai ada kepastian keamanan. Bahan kimia pestisida diketahui bersifat toksik bagi makhluk hidup dan dalam jangka panjang dapat membahayakan kesehatan manusia apabila masuk ke dalam tubuh.

Dampak pencemaran juga terasa pada layanan air bersih. Perusahaan daerah air minum setempat menghentikan sementara pengolahan air baku dari Sungai Cisadane sebagai langkah pencegahan agar air distribusi tetap aman. Sebagai upaya darurat, pengelola bendungan membuka pintu air untuk mempercepat aliran menuju laut sehingga konsentrasi polutan dapat berkurang.

Pakar teknik lingkungan menilai kondisi air yang berubah warna disertai kematian biota sungai menunjukkan kadar pencemar telah melampaui ambang aman. Meski secara visual air dapat tampak kembali normal dalam beberapa hari, residu bahan kimia masih mungkin tertinggal di dasar sungai. Zat yang tidak larut air berpotensi mengendap pada sedimen dan dilepaskan kembali secara perlahan sehingga pencemaran dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Karena itu, pemulihan ekosistem sungai diperkirakan membutuhkan waktu lama. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah pembuatan area rawa buatan atau zona penyaring alami untuk membantu menurunkan kadar polutan secara bertahap. Pemerintah juga diminta menyampaikan informasi secara terbuka kepada masyarakat terkait jenis bahan kimia yang terlepas serta langkah penanganan yang akan dilakukan.

Sementara itu, aparat kepolisian memeriksa sejumlah saksi, termasuk pegawai dan petugas keamanan gudang, guna menyelidiki penyebab kebakaran dan kemungkinan adanya kelalaian dalam penyimpanan bahan berbahaya. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan penyimpanan bahan kimia industri, terutama di kawasan yang terhubung langsung dengan aliran sungai yang menjadi sumber air masyarakat.

-A. H. I.

  • Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *