Pemerintah Bidik Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Capai 6%, Ekonom Ragu

  • Bagikan
Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi

Center of Reform on Economics Indonesia (CORE Indonesia) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 masih akan berada dalam zona positif, namun cenderung stagnan di sekitar 5%. Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan target pemerintah, di mana sebelumnya menteri keuangan Purbaya  menyampaikan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi nasional dapat menembus angka 6%.

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen masih akan menghadapi berbagai hambatan, baik yang bersifat struktural maupun eksternal. Menurutnya, tantangan-tantangan tersebut berpotensi membatasi ruang akselerasi pertumbuhan dalam jangka pendek.

“Jika pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6%, maka pencapaiannya akan relatif sulit mengingat beragam tantangan yang masih dihadapi,” ujar Yusuf Rendy pada Rabu (7/1/2026).

Dari sisi eksternal, tekanan utama datang dari kinerja ekspor dan sektor manufaktur yang menunjukkan kecenderungan melemah. Yusuf menyoroti belum tercapainya kesepakatan dalam negosiasi tarif impor antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu risiko terbesar. Apabila negosiasi tersebut tidak membuahkan hasil, produk ekspor Indonesia berpotensi dikenakan tarif resiprokal yang lebih tinggi, yang pada akhirnya akan menurunkan daya saing produk nasional di pasar AS—salah satu tujuan ekspor utama Indonesia.

Dampak kebijakan tersebut diperkirakan akan paling terasa pada industri tekstil dan alas kaki. Kedua sektor ini memiliki orientasi ekspor yang kuat ke pasar AS sekaligus merupakan industri padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Pengenaan tarif yang lebih tinggi dikhawatirkan tidak hanya menekan kinerja ekspor, tetapi juga berpotensi memicu tekanan terhadap penyerapan tenaga kerja.

“Sektor tekstil dan alas kaki menjadikan Amerika Serikat sebagai salah satu pasar utama. Ketika dikenakan tarif resiprokal yang tinggi, daya saing mereka tentu akan tergerus,” jelas Yusuf.

Selain tantangan global, tekanan juga muncul dari kondisi domestik. Yusuf menilai daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, masih berada dalam kondisi tertekan. Situasi ini berdampak pada lemahnya konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Perlambatan konsumsi tersebut membuat ruang dorongan ekonomi dari sisi domestik menjadi semakin terbatas.

Di sisi lain, Yusuf menilai berbagai stimulus ekonomi yang telah digulirkan pemerintah sejauh ini masih bersifat jangka pendek dan belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan struktural. Tanpa kebijakan yang lebih komprehensif untuk memperkuat konsumsi domestik dan meningkatkan produktivitas sektor riil, dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi pada 2026 diperkirakan akan tetap tertahan.

“Selama pemerintah belum menghadirkan solusi konkret untuk memperkuat konsumsi dalam negeri, maka kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi 2026 juga akan terbatas,” pungkasnya.

[M.A.F]

  • Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *